MotoGP Mandalika, Adonan Fanatisme Dan Perilaku Ndesoisme Yang Memuakkan.

atasaspal.com – pakde… sudah sebulan lebih motoGP Mandalika 2022 terselenggara namun diri ini seolah masih gagal move on dari hingar-bingar gelaran terbesar balap motor dunia ini. Jujur, jika ditanya kadar kesusahan move on-nya dibanding melupakan rasa pada sang mantan, motoGP Mandalika berada pada strata yang jauh diatasnya. Mantan? Lupakan saja karena setidaknya sudah banyak kisah dilewati bersama kendatipun gagal untuk berrumah tangga.

Ya, motoGP Mandalika memang teramat sangat sulit dilupa. Dalam setahun cuma ada 3 hari kesempatan untuk menyaksikannya dibumi Indonesia tercinta ini. Itupun jika kita ingin menyaksikannya dari seawal latihan bebas pada hari jum’at hingga race day pada hari minggu. Lah kalau yang nontonnya cuman pas race day? Gimana perasaan yang ada didalam dada? Tentu bergejolak dengan begitu dahsyatnya. Apalagi yang baru pertama kali menonton secara langsung disirkuit. Sungguh kesempatan yang sangat terbatas, kan???

Saat itu A’A mendapatkan kesempatan yang sangat berharga dan memang tidak mungkin untuk ditolak. Sebuah tiket nonton motoGP Mandalika pas race day dari Yamaha STSJ, Main Dealer Yamaha untuk wilayah Kalimantan, Nusa Tenggara dan Jatim, sepaket dengan jalan-jalan 4 hari 3 malam dipulau Lombok, pulau seribu masjid. Mendapatkan tiket Premium Grandstand alias warna merah, berada ditribun zona A yang selari dengan lintasan lurus diujung T17 hingga titik pengereman menuju T1 alias tepat berada berhampiran dengan garis start dan juga berseberangan dengan paddock.

MotoGP Mandalika 2022 yang menghadirkan Miguel Oliviera sebagai pembalap pertama yang menjuarainya ini memang menyajikan sesuatu keistimewaannya tersendiri. Hingar bingar atusiasme berpadu dengan berbagai koreografi layaknya gulungan ombak lautan yang dipandu oleh sang MC seolah bersinergi dengan yel-yel Indonesia Indonesia Indonesia yang begitu bergelora juga nyanyian berbagai lagu kebangsaan sukses membuat bulu kuduk ini merinding maksimal. Suasananya begitu membakar jiwa!

Kendatipun semua hal diatas jika dibandingkan dengan duduk manis didepan layar pesawat televisi masih kalah jauh soal kenyamanan dan kenikmatan yang mana bisa sambil selonjoran dan tak perlu tersiksa oleh sengatan mentari ataupun guyuran sang hujan yang datang bak tamu tak diundang, namun secara emosi, secara sensasi, fuyooooo jangan pernah sekalipun berani untuk mencoba membandingkannya. Ya, perjuangan dalam menonton motoGP Mandalika bahkan menghadirkan tetesan keringat yang jauh melebihi derasnya keringat pada saat malam pertama pengantin baru yang sangat menggebu.

Banyak moment yang menguras emosi pada saat menyaksikan ajang balapan yang juga melambungkan nama RARA sang pawang hujan hingga dikenal seantero dunia. Sebuah kesuksesan dari panitia dari segi penyelenggaraan, entertaint, branding dan juga marketing. Begitulah saya menyebutnya. Walaupun ya sekali lagi walaupun secara kesiapan sarana dan prasarana diluar sirkuit yang menjadi kecelakaan ter-ngeri Marq Marquez ini masihlah jauh panggang dari api. Masih sangat banyak yang menjadi bahan evaluasi!

Kita lupakan saja dulu tentang keruwetan yang terjadi dari seawal di Parkir Timur dan ticket redemtion yang penuh sesak dan massa yang desak-desakan hanya demi agar bisa masuk kesirkuit lebih dulu agar segera terbebas dari suasana tidak mengenakkan tersebut. Bayangkan betapa crowdednya saat area-area ataupun jalur-jalur sparator yang disiapkan panitia untuk memecah kerumunan massa tidak berfungsi dengan maksimal. Apalagi jika bukan karena terlalu sempit jika dibandingkan dengan jumlah penonton yang mencapai 20 ribu lebih via Parkir Timur ini.

Anggap saja tidak tahu pada area ini juga hampir terjadi tindakan anarkis akibat massa yang frustrasi. Anggap tidak tahu juga tentang omongan lucu dari petugas disaat screening akhir sebelum masuk kearea sirkuit yang juga terjadi antrian panjang, mengular dan penuh sesak kendatipun disini suasananya lebih kondusif dan tidak ada potensi untuk massa berbuat anarkis. Ya, anggap saja tidak mendengar kata-kata yang terdengar lucu ‘alatnya ada tapi petugasnya yang gak ada’ saat beberapa penonton mempertanyakan kenapa alat screening yang dipasang cuman 2 sedangkan dari awal tentunya panitia sudah lebih bisa berhitung dan memprediksi untuk jumlah ideal alat dan petugas.

Lalu kita tutup mata dulu saja tentang area parkir sirkuit yang masih berupa material tanah urug yang saat hujan sukses membuat semua penonton harus bermain lumpur ratusan meter hanya untuk sampai pada pintu keluar G1. Juga soal penonton yang diterlantarkan tentang moda transportasi hingga banyak yang lebih memilih untuk berjalan kaki ke area Parkir Timur kendatipun harus menempuh jarak berkilo-kilo meter. Mohon lupakan soal crowded-nya lalu lintas yang tak terkendali. Semua sarana seolah dipaksakan agar gelaran motoGP Mandalika 2022 lalu tetap terselenggara.

Lah kenapa harus dilupakan dan tutup mata? Tak lebih biar semua point minus diatas bisa segera dipelajari, ditindaklanjuti dan diperbaiki oleh para pemangku yang terkait, sehingga pada next event bisa lebih baik lagi dalam segi penyelenggaraan. Sudahlah kita maafkan saja karena publik sudah terlalu rindu pada motoGP yang sudah 25 tahun absen dari bumi pertiwi ini. Apalagi ini adalah event besar pertama yang diselenggarakan di Lombok. Tentu secara SDM masih belum berpengalaman. Ingat jangan pernah bandingkan dengan Sepang yang mana mereka sudah berpengalaman pun secara SDM dan sarananya sudah benar-benar siap. Sedangkan peran kita sebagai penikmat, sebagai penonton cukup berusaha mensuskseskan gelaran pada kapasitas kita sebagai penonton, bukan panitia. Mengkritik boleh, menghujat jangan.

Ngomongin soal penonton, ini nih yang bikin saya keki, karena ini bukan lagi soal sarana yang masih serba minim yang masih bisa ditoleransi dan diberbaiki tapi ini soal mentalitas! Ya, mentalitas ndeso (maaf saya bingung mau memakai konotasi apa yang lebih tepat untuk mewakilkan uneg-uneg tentang perilaku memuakkan tersebut. Maaf jika ungkapan ini menyinggung perasaan) yang entah kenapa kok dibawa sampai pada gelaran akbar balap motor prototype ini. Woi, ini bukan nonton road race lagi yang seolah sudah lumrah dengan aksi maen geruduk sana geruduk sini! Jaga sikap dong!

Memang perilaku apa sih yang sukses membuat saya keki? Padahal rekan sejawat mengenal saya sebagai peribadi yang humble dan friendly. Tak lain tak bukan sebuah tindakan menggeruduk kedepan, berdiri ditribun paling depan meninggalkan kursi masing-masing. Sehingga penonton yang lebih jauh dari garis start pandangannya terhalangi. Tidak bisa melihat lintasan start saat deruan mesin motogp yang memekakkan telinga mulai digeber sebelum start kelas tertinggi dimulai.

Penonton yang lebih jauh jelas dirugikan oleh tindakan ndeso ini karena moment menyaksikan start yang hanya terjadi setahun sekali hilang sudah, ambyar berkeping-keping. Lebih memalukan lagi saat aksi ndesoisme yersebut malah terjadi diseberang garasi tim-tim yang membalap dan juga bisa dilihat langsung dari media center sehingga dikhawatirkan timbul stigma negatif setelahnya. Sebuah luapan fanatisme dari penonton? Mungkin iya. Publik tanah air terlalu lama puasa akan adanya ajang-ajang bergengsi dunia yang dihelat ditanah air karena selama ini semua hanya bisa disaksikan di Sepang sana.

Namun, sebesar apapun sebuah fanatisme, kontrollah terus dalam mengekspresikannya agar tidak menimbulkan perasaan mangkel penonton lainnya, apalagi merugikannya. Jangan sampai antusiasme publik terhadap motoGP Mandalika 2022 yang menyajikan berbagai adonan ternodai oleh sikap ndesoisme yang memuakkan.

Contact Person

Email: atasaspal@gmail.com
Whatsapp: 085746893262
Facebook: Khoirul Anwar
IG: atasaspal
youtube: atasaspal vlog

Keep Safety Riding

Pos ini dipublikasikan di adventure, balap, komunitas, motogp, opini, umum, yamaha dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.